
Air Susu Ibu (ASI) adalah salah satu nutrisi alami dari ibu untuk bayi. Kandungan nutrisi dan zat gizi dalam ASI yang diberikan secara eksklusif dapat memenuhi kebutuhan bayi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Kandungan nutrisi dalam ASI sebenarnya berbeda-beda satu sama lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi kandungan nutrisi dalam ASI meliputi nutrisi ibu, keadaan fisiologi payudara, kesehatan ibu, dan kondisi lingkungan ibu. Contohnya saat ibu menyusui mengonsumsi makanan cepat saji dan margarin terlalu banyak, maka kandungan lemak trans dapat meningkat di ASI (S. Y. Kim & Yi, 2020).
Secara garis besar, ASI mengandung 87% air, 7% karbohidrat, 4% lemak, 1% protein, dan sisanya adalah berbagai mineral seperti kalsium, fosfor, magnesium, kalium, dan natrium serta banyak vitamin. Dalam 100 mL ASI mengandung energi sebesar 65-70 kcal (Boquien, 2018; J. H. Kim et al., 2017).
Bayi membuthkan karbohidrat untuk meningkatkan perkembangan dan fungsi saluran cerna. Berbeda dengan orang dewasa yang mengonsumsi karbohidrat dalam bentuk glukosa, bayi belum memiliki sistem pencernaan yang baik untuk mencerna glukosa sehingga hanya dapat mencerna laktosa. ASI mengandung banyak laktosa yang dapat dicerna oleh enzim laktase di usus bayi sehingga dapat memenuhi kebutuhan karbohidrat bayi (S. Y. Kim & Yi, 2020).
Lemak yang terkandung dalam ASI merupakan sumber energi penting bagi bayi. Asam lemak yang paling banyak terkandung dalam ASI adalah trigliserida. ASI juga mengandung linoleic acid dan alpha-linolenic acid. Asam-asam lemak inilah yang berfungsi untuk pembentukan respon tubuh, sistem imun, dan pertumbuhan terutapa pertumbuhan saraf dan retina (S. Y. Kim & Yi, 2020).
Protein yang paling banyak terdapat dalam asi meliputi casein, alpha-lactalbumin, lactoferrin, Immunoglobulin A (IgA), lisozim, dan albumin. Protein ini yang memiliki fungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh (sistem imun tubuh bayi), memperlancar pencernaan bayi, mempercepat perkembangan usus bayi, dan berfungsi membawa nutrisi lain ke seluruh tubuh bayi (Ballard & Morrow, 2013; Haschke et al., 2017).

Banyaknya kandungan nutrisi dalam ASI membuat ASI penting diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Kekurangan nutrisi pada bayi merupakan penyebab 45% atau 2,7 juta kematian bayi dan anak di dunia, sehingga memberikan nutrisi dini kepada bayi sangat direkomendasikan.
Program 1000 hari pertama kehidupan untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak di masa depan menjadikan pemberian ASI eksklusif sebagai salah satu aspek yang harus dipenuhi. WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI pada bayi dilakukan saat:
ASI pertama untuk bayi dapat diberikan dalam rentang waktu 1 jam setelah bayi lahir. Studi menyatakan bahwa kolostrum (jenis ASI yang keluar saat pertama kali menyusui) merupakan makanan pertama yang cocok untuk bayi baru lahir karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi dan mengurangi kematian bayi baru lahir (Rukindo et al., 2021).
Menurut studi, nutrisi dari ASI yang dipenuhi selama 6 bulan dapat mencegah kematian 1.4 juta bayi di dunia. Hal ini karena bayi terpenuhi nutrisi yang diperlukan dan dapat terlindungi dari berbagai penyakit karena antibodi yang didapatkan dari ASI (Mahmud et al., 2019).
Pemberian ASI eksklusif hingga usia 2 tahun dapat memberikan nutrisi yang cukup bagi bayi. Nutrisi yang cukup ini dapat mencegah kematian bayi, risiko terkena penyakit kronis, dan meningkatkan tumbuh kembang bayi saat dewasa nantinya (WHO, 2021).
Tak hanya sekedar nutrisi, dalam setiap tetes ASI juga mengandung kasih sayang dan harapan agar si Kecil dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kunjungi laman website Widya Herbal Indonesia dan media sosial Widya Herbal Indonesia untuk mendapatkan informasi lain terkait kesehatan.
Selain itu, Anda dapat mengunduh aplikasi Widya Herbal Indonesia melalui playstore dan appsstore yang menyediakan Konsultasi Kesehatan bersama Dokter dan Apoteker dan Artikel Kesehatan secara GRATIS!
Semoga sehat selalu, panjang umur, serta mulia bersama Widya Herbal Indonesia.
Sumber:
Ballard, O., & Morrow, A. L. (2013). Human Milk Composition: Nutrients and Bioactive Factors Olivia. Pediatric Clinical North America, 60(1), 49–74. https://doi.org/10.1016/j.pcl.2012.10.002.Human
Boquien, C. Y. (2018). Human milk: An ideal food for nutrition of preterm newborn. Frontiers in Pediatrics, 6(October), 1–9. https://doi.org/10.3389/fped.2018.00295
Haschke, F., Haiden, N., & Thakkar, S. K. (2017). Nutritive and bioactive proteins in breastmilk. Annals of Nutrition and Metabolism, 69(2), 17–26. https://doi.org/10.1159/000452820
Kim, J. H., Yi, Y. S., Kim, M. Y., & Cho, J. Y. (2017). Role of ginsenosides, the main active components of Panax ginseng, in inflammatory responses and diseases. Journal of Ginseng Research, 41(4), 435–443. https://doi.org/10.1016/j.jgr.2016.08.004
Kim, S. Y., & Yi, D. Y. (2020). Components of human breast milk: From macronutrient to microbiome and microRNA. Clinical and Experimental Pediatrics, 63(8), 301–309. https://doi.org/10.3345/cep.2020.00059
Mahmud, N. U., Abdullah, T., Arsunan, A. A., Bahar, B., Hadju, V., Muis, M., & Sumarmi, S. (2019). Determinants of exclusive breastfeeding in 6 months old infant in Jeneponto District. Indian Journal of Public Health Research and Development, 10(10), 1487–1492. https://doi.org/10.5958/0976-5506.2019.03047.X
Rukindo, M., Tumwebaze, M., & Mijumbi, E. M. (2021). First Hour Initiation of Breast Feeding & Associated Factors, among Mothers at Post Natal Ward in Fort Portal Referral Hospital, Uganda. Open Journal of Epidemiology, 11(01), 1–15. https://doi.org/10.4236/ojepi.2021.111001
WHO. (2021). Infant and Young Child Feeding. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/infant-and-young-child-feeding
Sumber foto: Baby hand photo created by jcomp - www.freepik.com