Buah Merah di Antara Penduduk Tanah Papua

header

Buah Merah di Antara Penduduk Tanah Papua

Ifah Fauziah 14 July, 2022

Buah merah adalah buah dengan kandungan antioksidan yang melimpah. Sejak dahulu, buah merah telah dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan. Namun, tahukah Anda bila dahulu pemanfaatan buah merah hanya dilakukan oleh penduduk dataran tinggi saja? Simak sejarah pemanfaatan buah merah sebagai berikut.

Varietas Buah Merah di Tanah Papua

Penduduk dataran tinggi tanah Papua di awal migrasinya memanfaatkan kemampuan berkebun dan bertaninya untuk bertahan hidup di dataran tinggi yang memiliki lingkungan ekstrem. Buah merah adalah salah satu tanaman yang ditanam dan menjadi makanan sehari-hari penduduk dataran tinggi Papua. Penduduk dataran tinggi di Lembah Baliem menyebut buah merah dengan sebutan ‘tawi’ atau ‘watawi’ (Roreng & Nishigaki, 2013).

Kini tersebar di berbagai wilayah, dahulu sebagian besar tanaman buah merah hanya ditanam di dataran tinggi saja seperti Lembah Baliem, Pegunungan Maoke, dan Pegunungan Arfak. Pada wilayah tersebut, pemerintah dan perhimpunan keagamaan setempat merekomendasikan penduduk setempat untuk menanam buah merah untuk kesehatan dan ekonomi sementara penduduk dataran rendah sulit untuk mendapatkan buah merah (Roreng & Nishigaki, 2013).

Buah merah yang tersebar di berbagai wilayah di Papua memiliki jenis berbeda tergantung dari tempat tumbuhnya. Berdasarkan penelitian Susanti et al. (2022) jenis-jenis buah merah tersebut antara lain:

  1. Edewewits
  2. Menjib Rumbai
  3. Memeri
  4. Monsor
  5. Monsrus
  6. Mbarugum

Buah Merah dan Tradisi Adat Masyarakat Papua

Secara tradisional, buah merah diolah menjadi pasta dan pasta tersebut dapat disimpan di dalam tempat wadah terbuat dari bambu selama satu tahun. Pasta tersebut dimakan bersama ubi atau sayuran. Di beberapa kesempatan seperti pernikahan dan upacara khusus, buah merah dimasak dengan cara tradisional yang disebut dengan ‘Bakar Batu’ (Roreng & Nishigaki, 2013).

Bakar Batu merupakan tradisi asli penduduk Papua dan merupakan cara penduduk lokal untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur dalam bentuk makanan (Muslim, 2019). Pada tradisi Bakar Batu, batu-batu yang telah dipanaskan ditempatkan di sekitar bahan makanan. Di antara batu dan bahan makanan ditempatkan kaca sehingga bahan makanan tidak secara langsung menyentuh batu panas. Daging buah merah yang telah dipanaskan dengan batu panas kemudian dipisahkan dengan suatu lapisan dan diberi air. Daging buah lalu dicampur dan diperas menggunakan tangan sehingga dihasilkan pasta buah merah (Roreng & Nishigaki, 2013).

Unik sekali, bukan, penggunaan buah merah ini! Ingin tahu lebih tentang tanaman buah merah dan herbal lainnya, Anda dapat mengunjungi website dan media sosial Widya Herbal Indonesia.

Layanan konsultasi Telemedicine ini GRATIS dan tersedia di Playstore dan Appstore dengan nama Widya Herbal. Anda juga dapat berkonsultasi melalui Grup WhatsApp intensif bersama para tim dokter dan apoteker profesional Widya Herbal secara GRATIS! 

Sumber:

Muslim, Abu. (2019). The Harmony Taste Of Bakar Batu Tradition On Papua Land. Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage. 8. 100. 10.31291/hn.v8i1.545. 

Roreng, Mathelda & Nishigaki, Toshiaki. (2013). Buah Merah dan Penduduk Papua. Warta IHP. Vol. 30 No 1. page 37-48.

Susanti, Endah P., Abdul Rohman, and Widiastuti Setyaningsih (2022) Dual Response Optimization of Ultrasound-Assisted Oil Extraction from Red Fruit (Pandanus conoideus): Recovery and Total Phenolic Compounds Agronomy 12, no. 2: 523. https://doi.org/10.3390/agronomy12020523


0 Komentar

  • Tidak ada komentar, jadikan anda orang pertama untuk berkomentar.

Tinggalkan Komentar