Indonesia dikejutkan dengan temuan pertama kasus cacar monyet yang dikonfirmasi pada seorang pria asal Jakarta. Pria berusia 27 tahun ini mendapatkan cacar monyet setelah melakukan perjalanan ke negara Eropa seperti Belanda, Swiss, Belgia, dan Perancis.
Dikutip dari Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH dalam keterangan pers-nya, penderita dalam keadaan baik, memiliki gejala ringan seperti cacar dan ruam di wajah, telapak tangan, dan kaki sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit serta hanya perlu isolasi mandiri.
Gejala yang dialami oleh penderita terkonfirmasi cacar monyet tersebut mirip dengan gejala cacar air. Bahkan, sebagian orang mungkin mengira cacar monyet ini sama dengan cacar air. Nyatanya, ada beberapa perbedaan dari dua penyakit serupa ini. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini.
Kedua jenis cacar ini sama-sama disebabkan oleh virus. Cacar monyet disebabkan oleh virus monkeypox dari genus Orthopoxvirus dan famili Poxviridae. Sementara cacar air disebabkan oleh virus varicella-zooster yang juga berasal dari genus Orthopoxvirus. Selain cacar air, virus varicella-zooster juga menyebabkan penyakit Ramsay-Hunt Syndrome.
Masa inkubasi dari cacar monyet selama 5-21 hari setelah terpapar virus, tapi biasanya gejala mulai muncul pada hari ke 6-13 setelah paparan virus. Sementara itu, masa inkubasi dari cacar air adalah selama 10-14 hari sebelum muncul gejala.
Cacar monyet merupakan penyakit zoonosis atau ditularkan oleh hewan ke manusia. Hewan yang dapat menularkan virus ini contohnya adalah monyet, tikus, dan tupai. Selain itu, penularan cacar monyet dari manusia ke manusia dengan adanya kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh penderita.
Berbeda dengan cacar monyet yang dapat ditularkan oleh hewan, cacar air hanya ditularkan dari manusia ke manusia. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan penderita (cairan tubuh, darah) dan kontak tidak langsung, misalnya saat menyentuh barang yang terkena cairan tubuh penderita cacar air.
Gejala cacar monyet serupa dengan cacar air, tetapi lebih ringan. Beberapa gejala yang sama adalah adanya demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, dan kelelahan. Namun ada perbedaan utama gejala penyakit cacar air dan cacar monyet.
Ketika terinfeksi cacar monyet, penderita akan mengalami pembengkakan kelenjar getah bening atau lymphadenopathy. Gejala ini terasa di bagian leher, ketiak, dan selangkangan. Sementara cacar air tidak menimbulkan gejala tersebut
(Anonim 2022; Kemenkes RI 2018; National Institute for Communicable Disease 2017).
Meski penyakit cacar monyet dan cacar air disebabkan oleh virus yang dapat sembuh sendiri (self-limiting disease), tentunya tetap perlu pencegahan agar tidak tertular dan menderita penyakit-penyakit tersebut. Selain menjaga pola hidup bersih dan sehat, penting untuk menjaga imunitas tubuh agar tak terinfeksi berbagai macam virus termasuk virus cacar monyet dan cacar air.
Herbal adalah solusi terbaik untuk mencegah penyakit tanpa menimbulkan efek samping berbahaya bagi tubuh. Herbal-herbal seperti daun sambiloto, kunyit, dan meniran punya efek baik untuk imunitas tubuh. Komponen tersebut ada dalam produk andalan Widya Herbal Indonesia, Angga Prasthana.
Angga Prasthana mengandung ekstrak daun sambiloto (Andrographis paniculata), kunyit (Curcuma domestica), dan meniran (Phyllanthus urinaria) yang dapat meningkatkan produksi antibodi dan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat terhindar dari cacar monyet.
Produk Angga Prasthana dapat Anda peroleh melalui Customer Service Widya Herbal Indonesia atau kunjungi laman media sosial kami untuk informasi lebih lanjut. Semoga sehat selalu, panjang umur, serta mulia bersama Widya Herbal Indonesia.
Untuk cari tahu lebih tentang purwaceng dan herbal lainnya, Anda dapat mengunjungi website Widya Herbal Indonesia dan media sosial Widya Herbal Indonesia. Selain itu, Anda dapat mengunduh aplikasi Widya Herbal Indonesia yang dapat diunduh melalui playstore dan appstore yang menyediakan Konsultasi Herbal dan Artikel Kesehatan secara GRATIS!
Penulis: apt. Fauziah Nurhasanah, S.Farm
Ditinjau oleh: apt. Risa Umari Yuli Aliviyanti, M. Pharm., Sci.
Editor: Aries Ikawati Arifah
Sumber:
Anonim. 2022. “Smallpox and Monkeypox.” Pp. 1–14 in The Green Book. United Kingdom: United Kingdom Public Health Government.
Kemenkes RI. 2018. FAQ_Monkeypox. Jakarta.
National Institute for Communicable Disease. 2017. Monkeypox Frequently Asked Questions.
Sumber gambar:
Image by Freepik