Muncul Gumpalan Lemak Kuning di Bawah Kulit Bisa Jadi Tanda Kolesterol Tinggi!

Fauziah Nurhasanah, 11 July, 2022

Kolesterol adalah senyawa berlemak yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel dan produksi vitamin serta hormon. Meski penting, kadar kolesterol tinggi ternyata dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Menurut WHO, kadar kolesterol tinggi dalam tubuh atau biasa disebut dengan hiperlipidemia atau dislipidemia merupakan salah satu penyakit tidak menular yang bila dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Kolesterol tinggi dalam darah dapat sebabkan penyakit mematikan seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan serangan jantung.

Ini gejala kolesterol tinggi yang harus diwaspadai

Kolesterol tinggi sering disebut sebagai ‘silent killer’, yaitu penyakit yang jarang menimbulkan gejala dan keluhan sehingga penderita tidak menyadari ancaman dari tingginya kolesterol. Namun, terdapat gejala yang harus diwaspadai karena bisa jadi tanda kolesterol tinggi dalam tubuh.

  • Timbul xanthoma

Xanthoma merupakan kondisi terjadinya penggumpalan lemak berwarna kuning di bawah kulit. Kondisi ini merupakan konsekuensi banyaknya lemak dan kolesterol di pembuluh darah kemudian memicu antibodi untuk membentuk kompleks dengan lemak dan kolesterol. Kompleks antara antibodi dengan lemak dan kolesterol inilah yang menjadi gumpalan lemak berwarna kuning. Biasanya, kondisi ini terjadi di bagian bawah kulit mata (Zak et al., 2014).

  • Pegal pada tengkuk hingga bahu

Gejala ini muncul akibat munculnya plak kolesterol pada pembuluh darah di area daerah tengkuk (leher belakang) hingga ke bahu. Plak kolesterol itu menyebabkan pembuluh darah menyempir dan aliran darah tidak lancar sehingga menimbulkan rasa nyeri di leher (Kumagai et al., 2018).

  • Kesemutan di kaki dan tangan

Selain di leher dan bahu, plak kolesterol juga dapat terjadi pada pembuluh darah di daerah kaki dan tangan. Akibatnya, terjadi hambatan aliran darah di saraf kaki dan tangan sehingga timbul sensasi menggelitik atau kesemutan di kaki dan tangan (Anonim, 2020).

  • Nyeri dada bagian kiri

Plak kolesterol di pembuluh dapat pula terjadi di daerah jantung. Ketika plak kolesterol tidak segera ditangani, plak ini dapat menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya terjadi nyeri di bagian dada sebelah kiri. Apabila dibiarkan terus menerus, maka kondisi ini dapat menyebabkan serangan jantung (Anonim, 2020).

  • Mudah lelah

Ketika muncul plak kolesterol di pembuluh darah, maka oksigen dan nutrisi yang didistribusikan melalui darah akan terhambat. Karenanya, sel-sel tubuh termasuk sel otak dan sel anggota gerak kekurangan oksigen. Akibatnya, tubuh akan menjadi mudah lelah (Tarbell et al., 2020).

Bila merasakan gejala tersebut, segera cek kadar kolesterol Anda. Ubah pola makan dan pola hidup menjadi lebih sehat sebagai upaya untuk mencegah dan mengatasi kolesterol tinggi dalam darah agar tidak timbul penyakit berbahaya yang mematikan. Selain itu, Anda dapat mengonsumsi produk andalan Widya Herbal Indonesia, Nirvataya.

Nirvataya mengandung ekstrak cermai (Phyllanthus acidus) dan ekstrak kunci pepet (Kaempferia angustifolia) yang bekerja sinergis serta diformulasi secara nanoteknologi untuk dapat membantu menghambat penyerapan lemak dan pembentukan kolesterol di tubuh.

Produk Nirvataya dapat diperoleh melalui aplikasi Widya Herbal Indonesia yang dapat diunduh melalui playstore dan appsstore. Selain itu, Anda dapat menghubungi Customer Service Widya Herbal Indonesia melalui tautan ini kapanpun dimanapun.

Sumber: 

Anonim. (2020). High Cholesterol Levels. Medicover Hospitals. https://www.medicoverhospitals.in/articles/high-cholesterol-levels

Kumagai, G., Wada, K., Tanaka, T., Kudo, H., Asari, T., Chiba, D., Ota, S., Nakaji, S., & Ishibashi, Y. (2018). Associations between neck symptoms and LDL cholesterol in a cross-sectional population-based study. Journal of Orthopaedic Science, 23(2), 277–281. https://doi.org/10.1016/j.jos.2017.11.002

Tarbell, J., Mahmoud, M., Corti, A., Cardoso, L., & Caro, C. (2020). The role of oxygen transport in atherosclerosis and vascular disease. Journal of the Royal Society Interface, 17(165). https://doi.org/10.1098/rsif.2019.0732

Zak, A., Zeman, M., Slaby, A., & Vecka, M. (2014). Xanthomas: Clinical and pathophysiological relations. Biomedical Papers, 158(2), 181–188. https://doi.org/10.5507/bp.2014.016

 

Artikel Lainnya

Tingkatkan Sistem Imun Tubuh dengan...

Fauziah

09 September 2022

Tua itu Penyakit: Cari Tahu Usia Bi...

Fauziah

17 August 2022

Atasi Penuaan dengan Terapi Plasent...

Fauziah

06 January 2023