
Almond mungkin tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Meski bukan berasal dari negara ini, almond telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat kita. Lezat di lidah, rupanya almond punya nutrisi melimpah yang baik untuk kesehatan tubuh, lho! Simak selengkapnya sebagai berikut.
Almond (Prunus dulcis) merupakan tanaman dari famili Rosaceae dan berasal dari Timur Tengah. Tanaman almond biasanya tumbuh di iklim sedang hingga iklim panas dan kering. Kini, almond telah tersebar di berbagai belahan dunia seperti di Wilayah Mediterania, Amerika, dan Afrika yang memiliki iklim tak jauh berbeda dengan daerah asalnya (Parle & Bhoria, 2010).

Pohon almond (A) biasanya berukuran tidak terlalu besar, dengan tinggi sekitar 3-4,5 meter. Daunnya berbentuk linier dengan panjang 5-13 cm dengan ujung agak runcing dan tepi bergerigi. Bunga almond (B) berwarna merah muda atau putih. Bunganya terbagi menjadi 5 kelopak dan memiliki aroma yang wangi.
Buah dari tanaman almond sendiri adalah kacang almond. Cangkang luar dari almond berbentuk keras dan berulir dengan bagian dalam kacang yang kering. Pohon almond biasanya berbuah saat berusia 3-4 tahun dan dapat berbuah hingga usia 50 tahun (Parle & Bhoria, 2010).
Almond rupanya telah menjadi bagian dari peradaban dunia terutama di Asia Tengah dan Timur Tengah. Negara-negara di Wilayah Hilal Subur (Fertile Crescent) seperti Palestina, Lebanon, Turki, hingga Irak telah mengenal almond sejak 10.000 tahun lalu dan menjadi salah satu tanaman pertama yang dibudidayakan di sana. Bahkan, almond juga ditemukan di makam Raja Tutankhamun di Mesir pada tahun 1352 SM (Mori et al., 2011).
Penggunaan pertama almond dalam pengobatan tercatat dilakukan oleh orang-orang di jaman Yunani Kuno. Hipokrates, salah satu ahli pengobatan hebat dunia di jaman Yunani Kuno, menggunakan almond sebagai makanan untuk menghangatkan badan serta sebagai obat pencahar. Karenanya, almond seringkali disebut sebagai ‘Greek Nut’ atau ‘Kacang Yunani’ (Mori et al., 2011; Parle & Bhoria, 2010).
Dalam 100 gram almond terkandung nutrisi sebagai berikut:
Kadar lemak dalam almond memang tinggi, mencapai 49,9 gram per 100 gramnya. Akan tetapi, jangan khawatir, sebagian besar lemak yang terkandung dalam almond merupakan lemak tak jenuh atau unsaturated fatty acid seperti MUFA dan PUFA. Lemak tak jenuh merupakan lemak yang baik untuk kesehatan.
Salah satu fungsi lemak tak jenuh adalah untuk meningkatkan fungsi dari otak. Lemak jenuh juga dapat menghambat penyusutan area substantia nigra di otak, yaitu bagian otak yang mengatur fungsi kognitif, emosi, dan motorik tubuh. Jika area substantia nigra menyusut, maka fungsi-fungsi tersebut akan terhambat. Oleh karenanya, almond dapat mencegah gejala kekurangan fungsi kognitif seperti demensia dan alzheimer (Bentsen, 2017; Marcus, 2013).
Nah, demikian sekilas informasi mengenai almond. Bila ingin mencari tahu lebih dalam tentang almond dan herbal lainnya, Anda dapat mengunjungi website Widya Herbal Indonesia dan media sosial Widya Herbal Indonesia. Selain itu, Anda dapat mengunduh aplikasi Widya Herbal Indonesia yang dapat diunduh melalui playstore dan appsstore yang menyediakan Konsultasi Herbal dan Artikel Kesehatan secara GRATIS! Semoga selalu sehat, panjang umur, serta mulia. Salam sehat!
Sumber:
Bentsen, H. (2017). Dietary polyunsaturated fatty acids, brain function and mental health. Microbial Ecology in Health and Disease, 28(sup1), 1281916. https://doi.org/10.1080/16512235.2017.1281916
Marcus, J. B. (2013). Lipids Basics: Fats and Oils in Foods and Health. In Culinary Nutrition. https://doi.org/10.1016/b978-0-12-391882-6.00006-6
Mori, A., Lapsley, K., & Mattes, R. D. (2011). Almonds (Prunus dulcis): Post-Ingestive Hormonal Response. Nuts and Seeds in Health and Disease Prevention, May, 167–173. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-375688-6.10019-2
Parle, M., & Bhoria, M. (2010). Almond?: A health diamond. Annals of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 1(2), 148.