Stroke adalah kondisi darurat medis yang terjadi begitu tiba-tiba. Dalam hitungan menit, aliran darah ke otak terganggu, sel-sel saraf mulai mati, dan fungsi tubuh bisa lumpuh selamanya. Di sinilah salah satu tantangan terbesar dalam dunia medis, yaitu bagaimana meminimalkan kerusakan otak setelah stroke terjadi, dan bagaimana mendukung proses pemulihan setelahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia riset medis mulai melirik pendekatan berbasis regenerative medicine, termasuk penggunaan secretome dari stem cell sebagai terapi pendamping yang menjanjikan untuk pasien stroke.
Stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terhenti secara mendadak, baik karena penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) maupun karena pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Akibatnya, jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi, menyebabkan kerusakan neurologis yang bisa bersifat permanen.
Gejala stroke yang perlu diwaspadai meliputi:
Semakin cepat pertolongan diberikan, semakin besar peluang untuk mempertahankan fungsi otak. Namun, bahkan setelah penanganan akut, banyak pasien masih menghadapi tantangan pemulihan fungsi motorik dan kognitif yang panjang.
Perlu diketahui pula bahwa terapi standar saat ini, yaitu trombolisis intravena, hanya dapat diberikan dalam jendela waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul. Dalam praktiknya, hanya sekitar 3,2% hingga 5,2% pasien stroke iskemik yang memenuhi syarat untuk mendapatkan terapi ini. Artinya, sebagian besar pasien tidak mendapatkan intervensi akut yang optimal, dan kebutuhan akan pendekatan terapi tambahan menjadi sangat relevan.
Secretome adalah kumpulan zat bioaktif yang dihasilkan dan disekresikan oleh stem cell (sel punca), mencakup growth factor, chemokine, sitokin anti-inflamasi, metabolit, dan lipid bioaktif yang berperan penting dalam komunikasi antar sel, perbaikan jaringan, dan pengaturan respons imun tubuh.
Satu hal menarik dari secretome adalah ia tidak mengandung sel hidup sehingga profil keamanannya lebih mudah dikontrol dibandingkan terapi berbasis transplantasi sel langsung. Secretome bekerja layaknya "pesan" yang dikirimkan stem cell kepada jaringan yang rusak, memandu proses perbaikan dari jarak jauh. Salah satu mekanisme utamanya adalah mendorong peningkatan produksi VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) dan CD31, dua protein yang berperan kunci dalam pembentukan pembuluh darah baru dan kelangsungan hidup sel saraf.
Sejumlah penelitian praklinis telah mengeksplorasi potensi secretome pada model stroke, dan hasilnya cukup menarik untuk disimak.
Membantu Memperkecil Kerusakan Otak
Penelitian yang dilakukan oleh Silvana (2025) menguji efek secretome pada tikus yang mengalami stroke iskemik. Hasilnya menunjukkan bahwa secretome mendorong pertumbuhan pembuluh darah baru dan melindungi sel saraf dari kerusakan lebih lanjut. Area otak yang mati akibat stroke pun mengecil secara bermakna, dan kemampuan neurologis tikus membaik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa secretome mampu mendukung proses regenerasi otak secara menyeluruh, mulai dari kelangsungan hidup sel saraf hingga pemulihan aliran darah ke jaringan yang terdampak.
Pemulihan Kemampuan Gerak
Penelitian yang dilakukan oleh Crhistobed et al. (2024) menemukan bahwa secretome bisa membantu tikus stroke berjalan dan bergerak lebih baik. Tikus yang mendapat secretome secara intravena menunjukkan perbaikan kemampuan motorik yang signifikan dari hari ke hari, dibandingkan tikus yang tidak mendapatkannya. Secretome diduga bekerja dengan mendorong terbentuknya pembuluh darah baru sekaligus mencegah kematian sel otak yang lebih lanjut.
Potensi pada Stroke Hemoragik
Tidak hanya stroke iskemik, secretome juga menunjukkan potensi pada stroke akibat perdarahan otak. Sebuah penelitian oleh Dzhauari et al. (2023) menemukan bahwa secretome memberikan efek perlindungan yang nyata pada otak, bahkan ketika diberikan pada tikus yang lebih tua. Secretome efektif diberikan dalam jangka waktu 1 hingga 3 jam setelah perdarahan terjadi, dan pemberian berulang dalam 48 jam pertama terbukti mampu mengurangi dampak negatif jangka panjang dari stroke hemoragik.
Hasil-hasil penelitian di atas membuka perspektif baru tentang bagaimana pemulihan pasca-stroke bisa didukung dari sisi regenerasi jaringan. Namun ada beberapa hal penting yang perlu dipahami:
Stroke meninggalkan dampak yang sering kali jauh melampaui kejadian akutnya itu sendiri. Proses pemulihan bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dan dukungan dari berbagai pendekatan medis menjadi sangat penting. Secretome, sebagai salah satu inovasi dalam dunia regenerative medicine, menawarkan harapan baru yang sedang terus dikaji lebih jauh.
Jika Anda atau keluarga sedang dalam masa pemulihan pasca-stroke dan ingin mengetahui lebih lanjut tentang opsi terapi pendamping yang tersedia, Layanan Widya Therapeutic dimulai dari konsultasi medis, pemeriksaan kesehatan, hingga tindakan yang dilakukan oleh tenaga profesional di klinik mitra. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi CS Widya Therapeutic +62 811-2956-588.
Referensi:
Christobed, A., Retnaningsih, R., Pramukarso, D. T., Pudjonarko, D., Suryawati, H., & Andhitara, Y. (2024). Pengaruh Secretome terhadap Luaran Klinis Motorik pada Tikus Wistar Model Stroke Iskemik. Thesis. Universitas Diponegoro.
Dzhauari, S., Basalova, N., Primak, A., Balabanyan, V., Efimenko, A., Skryabina, M., Popov, V., Velichko, A., Bozov, K., Akopyan, Z., Malkov, P., Stambolsky, D., Tkachuk, V., & Karagyaur, M. (2023). The Secretome of Mesenchymal Stromal Cells in Treating Intracerebral Hemorrhage: The First Step to Bedside. Pharmaceutics, 15(6).
Silvana, S., 2025. Pengaruh Pemberian Sekretom Sel Punca Mesenkimal Hipoksia pada Tikus Galur Wistar Model Stroke Iskemik Kajian pada Evaluasi Defisit Neurologis, Vascular Endothelial Growth Factor, Glial Fibrillary Acidic Protein, CD31 dan S100b. Thesis/Dissertation. Universitas Sumatera Utara.