Akhir-akhir ini, isu tentang gas air mata sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat. Gas air mata seringkali digunakan untuk menertibkan dan menjaga keamanan di tengah kerumunan masyarakat. Tapi, tahukah Anda sebenarnya apa itu gas air mata dan apa dampaknya untuk kesehatan?
Gas air mata atau tear gas merupakan agen kimiawi yang sering digunakan untuk menertibkan dan mengontrol kerumunan. Gas air mata juga seringkali disebut sebagai lacrimatory agent karena efeknya yang menimbulkan air mata.
Komponen utama gas air mata yang seringkali digunakan di masa kini adalah senyawa Chlorobenzylidene malonitrile. Senyawa ini juga seringkali disebut CS yang merupakan singkatan dari dua penemunya, Corson dan Stoughton pada 1928.
Selain itu, terdapat bahan lain yang terkandung dalam gas air mata seperti chloroacetophenon (CN), oleoresin capsicum (OC), dan dibenzocazepine (CR). Berbeda dengan CS, CN, dan CR yang merupakan bahan sintetik, OC dalam gas air mata merupakan salah satu bahan alam yaitu ekstrak dari merica genus Capsicum (Brown et al., 2021b).
Bahan-bahan ini sebenarnya merupakan padatan yang dibawa oleh gas aerosol, salah satunya adalah potassium chlorate dan epoxy resin. Meski diklaim aman, nyatanya potassium chlorate dan epoxy resin punya dampak buruk bagi kesehatan serta merusak lingkungan. Senyawa ini beracun untuk ekosistem air yang menimbulkan efek jangka panjang (Brown et al., 2021a).
Meski dinamakan gas air mata, nyatanya gas air mata tidak hanya memiliki efek pada mata saja. Terdapat efek buruk untuk organ tubuh yaitu:
Ketika gas air mata terhirup oleh paru-paru, maka partikel-partikel seperti CS, CN, dan OC akan masuk ke paru-paru dan berikatan dengan saraf di paru-paru. Saraf ini akan mengalirkan sinyal ke otak sehingga otak akan mengeluarkan respon rasa sakit. Respon ini akan mengakibatkan tubuh mengeluarkan senyawa pemicu radang dan akhirnya menyebabkan batuk, iritasi, dan produksi lendir yang berlebihan (Brown et al., 2021a).
Karena efek samping merugikan ini, oleh karenanya gas air mata tidak boleh digunakan di ruang tertutup dan terkunci, di dalam kendaraan, dan tidak boleh menggunakan gas air mata yang kadaluwarsa.
Bagaimana cara menangani efek yang timbul akibat terkena gas air mata? Sayangnya tidak ada antidot khusus untuk menangani efek gas air mata. Oleh karena itu, apabila terkena gas air mata yaitu dapat langsung dibilas dengan air mengalir, cari udara bersih, dan lepaskan pakaian yang terkontaminasi gas air mata.
Untuk mencegah gas air mata terpapar ketika sedang berada di kerumunan, maka dapat menggunakan pelindung seperti kacamata goggle, penutup wajah, masker, dan pakaian tertutup agar tubuh tidak terkena gas air mata (Yetman, 2020).
Informasi lain tentang kesehatan dan herbal di website Widya Herbal Indonesia dan media sosial Widya Herbal Indonesia yang rutin memberikan informasi tentang herbal. Selain itu, Anda dapat mengunduh aplikasi Widya Herbal Indonesia melalui playstore dan appstore yang menyediakan Konsultasi Kesehatan bersama Dokter dan Apoteker dan Artikel Kesehatan secara GRATIS!
Panjang umur serta mulia bersama Widya Herbal Indonesia.
Penulis: apt. Fauziah Nurhasanah, S.Farm
Ditinjau oleh: apt. Risa Umari Yuli Aliviyanti, M. Pharm., Sci.
Editor: Aries Ikawati Arifah
Sumber:
Brown, J. L., Lyons, C. E., Toddes, C., Monko, T., & Tyshynsky, R. (2021a). Reevaluating tear gas toxicity and safety. Inhalation Toxicology, 33(6–8), 205–220. https://doi.org/10.1080/08958378.2021.1963887
Brown, J. L., Lyons, C. E., Toddes, C., Monko, T., & Tyshynsky, R. (2021b). Tear gas safety and usage practices. Journal of Science Policy & Governance, 18(01). https://doi.org/10.38126/jspg180104
Yetman, D. (2020). How Does Tear Gas Affect the Human Body? Healthline. https://www.healthline.com/health/tear-gas-effects