Pernah dengan tanaman kunci pepet? Kunci pepet merupakan salah satu tanaman herbal yang biasa ditemukan di Himalaya Timur, Laos, Vietnam, Thailand, dan Jawa. Biasanya ditemukan di hutan jadi, persawahan, dan daerah berkapur (Kardono et al., 2003).

Kunci pepet dan kunir putih merupakan dua jenis tanaman yang berbeda. Namun, keduanya seringkali disalahartikan menjadi spesies yang sama. Jangan sampai keliru, ini beda kunci pepet dan kunir putih supaya tidak sampai salah.
Sama-sama masuk dalam familie Zingiberaceae dan genus Kaempferia, kunci pepet dan kunir putih adalah spesies yang berbeda. Kunci pepet memiliki nama ilmiah Kaempferia angustifolia sementara kunir putih nama ilmiah Kaempferia rotunda (Krishna et al., 2020; Tang et al., 2014).
Kunci pepet memiliki daun berbentuk elips berwarna hijau, tidak terlalu lebar, memanjang, dan tumbuh tegak. Rimpangnya memiliki warna kuning keabuan dengan bagian dalam rimpang berwarna kuning keputihan (Labrooy et al., 2018).
Daun kunir putih memiliki bunga berwarna keunguan dan memiliki benang sari berbentuk lateral. Rimpangnya berbentuk bulat kecil dengan ukuran 2-3 cm dan berwarna putih kekuningan (Soonthornkalump et al., 2017).
Kedua tumbuhan ini memiliki berbagai senyawa ilmiah bermanfaat. Kunci pepet mengandung senyawa kaempfolienol, crotepoxide, boesenboxide, 2'-hydroxy-4,4',6'-trimethoxychalcone, zeylenol, 6- methylzeylenol, (24S)-24-methyl-5-alpha-lanosta-9, dan 25-dien-3-beta-ol, serta sukrosa, beta-sitosterol, dan glikosida (Tang et al., 2014).
Sementara itu, kunir putih mengandung banyak alkaloid dan flavonoid. Senyawa yang berhasil diisolasi dari kunir putih antara lain 1-benzoyloxymethyl-1,6-epoxycyclohexan-2,3,4,5-tetrol,3-benzoyl-1 benzoyl-oxymethylcyclohexa-4,6-dien-2,3-diol, salicin,cyclohexane diepoxide, crotepoxide, 5-hydroxy-7-methoxyflavanone, 7-hydroxy-5-methoxyflavanone, dan 5, 7-dihydroxyflavanone (Kumar et al., 2015).
Kunci pepet telah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional untuk membantu melangsingkan badan. Hal ini karena kemampuan kunci pepet dalam mencegah penyerapan lemak di usus sehingga tidak terjadi penumpukan lemak dan kolesterol di darah maupun jaringan tubuh.
Sementara itu kunir putih biasanya digunakan untuk mengatasi sakit perut, mual, dan maag. Selain itu, daun dari kunir putih juga digunakan sebagai bahan makanan

Bagian kunci pepet yang biasa digunakan untuk jamu adalah bagian rimpangnya. Jamu ini apabila dikonsumsi secara rutin dapat membantu menurunkan berat badan tubuh. Berikut cara untuk membuat jamu kunci pepet:
Bahan:
10 gram rimpang Kunci Pepet
2 gelas air
Cara Membuat:
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017)
Jamu kunci pepet ini dapat diminum sebanyak sekali sehari setiap hari. Namun ada baiknya sebelum membuat dan mengonsumsi jamu kunci pepet Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter agar dosis dan penggunaannya tetap sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.
Widya Herbal Indonesia menyediakan layanan konsultasi dokter herbal GRATIS melalui aplikasi Widya Herbal Indonesia yang dapat diunduh melalui playstore dan appsstore. Selain itu, Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter dan apoteker kami secara intensif dengan bergabung di Group WhatsApp. Konsultasi dokter dan apoteker herbal mudah, tepat, dan cepat bersama Widya Herbal Indonesia.
Sumber:
Kardono, L. B. S., Minarti, Sutaryo, B., Buntari, S. T., & Kawanishi, K. (2003). Antioxidant Compound from The Rhizomes of Kaempferia Angustifolia Collected from Purworejo, Central Java Secondary Forest. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 1(1), 8–14. http://jifi.farmasi.univpancasila.ac.id/index.php/jifi/article/view/663
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/187/2017 tentang Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia. In Kementerian Kesehatan RI. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Krishna, A. G., Ansary, P., & Oommen, S. M. (2020). Kaempferia rotunda Linn.-Phytochemical Profile. International Research Journal of Pharmacy and Medical Sciences, 3(6), 21–24. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.13991.37283
Kumar, A., Kumar, S., & Navneet. (2015). Antimicrobial activity and phytochemical analysis of Kaempferia rotunda L. rhizomes. Der Pharmacia Lettre, 7(9), 389–395.
Labrooy, C. D., Abdullah, T. L., & Stanslas, J. (2018). Identification of ethnomedicinally important Kaempferia L. (Zingiberaceae) species based on morphological traits and suitable DNA region. Current Plant Biology, 14(August), 50–55. https://doi.org/10.1016/j.cpb.2018.09.004
Soonthornkalump, S., Chuenboonngarm, N., Jenjittikul, T., Thammasiri, K., & Soontornchainaksaeng, P. (2017). Morphological and stomatal guard cell characteristics of in vitro Kaempferia rotunda L. (Zingiberaceae) through colchicine induced polyploidy. Walailak Journal of Science and Technology, 14(3), 235–242.
Tang, S. W., Sukari, M. A., Neoh, B. K., Yeap, Y. S. Y., Abdul, A. B., Kifli, N., & Cheng Lian Ee, G. (2014). Phytochemicals from kaempferia angustifolia Rosc. and their cytotoxic and antimicrobial activities. BioMed Research International, 2014. https://doi.org/10.1155/2014/417674