Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sedang marak terjadi di Indonesia. Benarkah penyakit ini dapat menular ke manusia? Simak selengkapnya!

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan mewabahnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan-hewan ternak di berbagai wilayah Indonesia. Per tanggal 2 Juni 2022, diketahui sebanyak 40,000 ekor hewan ternak di 17 provinsi terjangkit penyakit mulut dan kuku (CNBC, 2022).
Kenali Penyakit Mulut dan Kuku

Penyakit mulut dan kuku atau Foot and Mouth Disease (FMD) merupakan penyakit menular pada hewan yang menyerang hewan-hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing serta lebih dari 70 spesies lain. Penyakit ini disebabkan oleh virus Foot and Mouth Disease (FMDV) yang masuk dalam famili Picornaviridae dan genus Aphthovirus (Adjid, 2020).
Penyakit mulut dan kuku dilaporkan terjadi di berbagai wilayah di dunia termasuk Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Penyakit ini menyebabkan demam akut hingga suhu 39oC, hilangnya nafsu makan, dan diikuti munculnya lesi/lepuh di bagian bibir dan kaki hewan terinfeksi. Pada hewan sapi yang terinfeksi, biasanya terjadi peningkatan sekresi saliva/air liur serta penurunan produksi susu (Adjid, 2020; Prempeh et al., 2001).

Gejala muncul selama 2-14 hari setelah terinfeksi. Kebanyakan hewan yang terinfeksi penyakit mulut dan kuku tidak mati. Akan tetapi, penyakit ini menyebabkan hewan tersebut menjadi lemah dan tidak bisa memproduksi susu atau daging yang sama seperti sebelum terjangkit penyakit (Anonim, 2021).
Benarkah Penyakit Mulut dan Kuku bisa Menular ke Manusia?
Penularan penyakit mulut dan kuku dari hewan ke manusia telah menjadi perdebatan selama bertahun-tahun. Penularan kepada manusia sangat jarang terjadi. Kasus terakhir pada manusia dilaporkan pada tahun 1966 di Inggris saat ada kejadian luar biasa penyakit mulut dan kuku di wilayah tersebut (Prempeh et al., 2001).
Pada manusia, virus penyakit mulut dan kuku yang menginfeksi menyebabkan gejala ringan seperti kesemutan di tangan, demam, radang tenggorokan, dan lepuhan pada kaki dan mulut, termasuk lidah. Pasien terinfeksi dapat sembuh tanpa pengobatan khusus 1 minggu setelah lepuhan terakhir ditemukan (Prempeh et al., 2001).
Virus ini dapat bertahan hidup dalam jangka waktu panjang pada daging, baik daging segar, daging setengah matang, daging yang diawetkan, dan daging asap. Selain itu, virus ini dapat bertahan pada produk-produk susu yang tidak dipasteurisasi dengan benar (Prempeh et al., 2001).
Penularan ke manusia dapat terjadi karena konsumsi susu yang tidak dipasteurisas (disterilkan)i, produk olahan susu dan daging dari hewan yang terinfeksi, atau akibat kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Penularan dari manusia ke manusia belum pernah dilaporkan terjadi (Prempeh et al., 2001; Anonim, 2012).
Cara Mencegah Penularan Penyakit Mulut dan Kuku ke Manusia
Walaupun risiko penularan ke manusia sangat kecil, ada baiknya bila tetap waspada dan berhati-hati terutama dalam berinteraksi serta mengonsumsi hewan yang rawan terkena penyakit mulut dan kaki. Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan untuk membantu mencegah penularan penyakit mulut dan kaki:
(Prempeh et al., 2001; Anonim, 2012).
Demikian informasi mengenai penyakit mulut dan kuku, penularan penyakit mulut dan kuku ke manusia, serta cara mencegah penularan penyakit mulut dan kuku ke manusia. Apabila terdapat pertanyaan seputar kesehatan, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter melalui chat dokter di aplikasi Widya Herbal yang dapat diunduh melalui playstore dan appstore. Kami Siap melayani kesehatan Anda kapanpun dan dimanapun.
Sumber:
Adjid, R.M. Abdul. Foot and Mouth Disease: An Exotic Animal Disease that must be Alert of Entry into Indonesia. Wartazoa. 2020. Vol. 30. No. 2. Page 61-70. http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v30i2.2490
Anonim. Foot-and-Mouth Disease. Animal and Plant Health Inspection Service U.S. Department of Agriculture. 2021. https://www.aphis.usda.gov/publications/animal_health/fs-fmd-general.pdf
Anonim. Transmission of Foot and Mouth Disease to Humans Visiting Affected Areas. European Centre for Disease Prevention and Control. 2012.
Prempeh H, Smith R, Müller B. Foot and mouth disease: the human consequences. The health consequences are slight, the economic ones huge. BMJ. 2001;322(7286):565-566. doi:10.1136/bmj.322.7286.565
CNBC. Update: 40,000 Ekor Ternak RI Kena Penyakit Mulut & Kuku. CNBC Indonesia. 2022. https://www.cnbcindonesia.com/news/20220602132559-4-343750/update-40000-ekor-ternak-ri-kena-penyakit-mulut-kuku