Meski dianggap kurang berbahaya, bukan berarti penggunaan vape tanpa risiko. Salah satu risiko yang mungkin dihadapi oleh pengguna vape adalah kanker. Benarkah demikian?

Vape atau rokok elektrik merupakan alat yang memiliki fungsi seperti rokok, namun tidak mengandung dan membakar daun tembakau. Vape bekerja dengan mengubah liquid atau cairan kimia (e-juice) yang berisi nikotin, gliserin, acrolein, dan senyawa lainnya menjadi uap yang kemudian dihisap masuk ke paru-paru.
Vape awalnya digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada rokok tembakau atau rokok konvensional lainnya yang dikenal memiliki efek buruk untuk kesehatan. Namun kini, vape banyak digunakan di berbagai kalangan masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, penggunaan vape di Indonesia semakin meningkat. Tak hanya menjadi alat untuk membantu berhenti merokok (smoking cessation), vape kini telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
Selain karena tren dan gaya hidup, vape banyak digunakan oleh masyarakat karena terasa ‘lebih halus’ di tenggorokan dan lebih nyaman digunakan di mulut. Berbagai aroma yang dihasilkan oleh asap vape juga dinilai lebih bersahabat dibandingkan dengan asap rokok konvensional. Oleh karenanya pengguna vape saat ini semakin meningkat (Saputra, 2019).
Berdasarkan data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, diketahui pengguna vape di Indonesia meningkat secara signifikan dari angka 0,3% pada tahun 2011 menjadi 3,0% pada tahun 2021 atau meningkat 10 kali lipat (6,2 juta orang) (CDC, 2021a, 2021b).
Rokok konvensional yang mengandung tembakau mengandung segudang bahaya bagi kesehatan. Penyakit kronis berbahaya seperti kanker paru-paru dan kanker tenggorokan adalah sedikit penyakit mematikan yang dapat disebabkan oleh rokok.
Tak hanya rokok konvensional, nyatanya vape juga berisiko menyebabkan berbagai penyakit di saluran napas. Hal ini karena vape mengandung berbagai senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan berbagai penyakit berbahaya, salah satunya kanker.
Diketahui vape banyak mengandung senyawa bernama asetaldehid. Asetaldehid merupakan senyawa karsinogen dan berisiko menyebabkan kanker esofagus. Senyawa bernama acrolein yang dikandung vape juga dapat mengakibatkan kerusakan paru permanen serta kanker paru-paru. Acrolein biasanya digunakan sebagai pestisida (Association American Lung, 2020).
Vape mengandung senyawa bernama formaldehid yang merupakan senyawa karsinogen dan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring. Selain itu, vape mengandung senyawa polycyclic hydrocarbons (PAHs) yang ketika dihirup dapat berisiko menyebabkan tumor dan kanker faring, esofagus, dan kanker laring (Szukalska et al., 2020).
Meski risikonya lebih kecil bila dibandingkan dengan rokok konvensional, namun paparan terus menerus asap vape ke paru-paru dapat meningkatkan risiko tubuh terkena kanker.
Selain kanker, penggunaan vape juga dapat menyebabkan EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury atau Penyakit Paru yang Berhubungan Dengan Vape/Rokok Elektrik). EVALI merupakan penyakit baru yang penderitanya meningkat akibat naiknya tren penggunaan vape.
Penyakit ini disebabkan karena kandungan vitamin E asetat dan tetrahidrokanabinol (THC) yang juga terkandung dalam vape. Penyakit ini menyebabkan gejala seperti demam, napas pendek dan cepat, diare, serta mual muntah.
Oleh karenanya, jaga selalu paru-paru dan saluran napas Anda dengan konsumsi produk andalan kami Visuddha Baddhana yang mengandung ekstrak jamur cordyceps, ekstrak sarang walet, dan ekstrak ginseng yang memiliki aktivitas sinergis sehingga mampu membantu mengatasi PPOK dan batuk akibat rokok.

Anda dapat mengunjungi website Widya Herbal dan media sosial Widya Herbal untuk informasi lain terkait kersehatan. Anda juga dapat mengunduh aplikasi Widya Herbal di playstore dan apps store atau bergabung dengan Grup WhatsApp untuk mendapatkan konsultasi kesehatan GRATIS dan intensif bersama dokter dan apoteker kami. Salam sehat!
Sumber:
Association American Lung. (2020). The Impact of E-Cigarettes on the LungNo Title. American Lung Association. https://www.lung.org/quit-smoking/e-cigarettes-vaping/impact-of-e-cigarettes-on-lung#:~:text=These aldehydes can cause lung,as cardiovascular (heart) disease.&text=E-cigarettes also contain acrolein,cause asthma and lung cancer.
CDC. (2021a). GATS (Global Adult Tobacco Survey) Comparison Fact Sheet Indonesia 2011 & 2021. Global Adult Tobacco Survey.
CDC. (2021b). GATS (Global Adult Tobacco Survey) Fact Sheet Indonesia 2021. Global Adult Tobacco Survey.
Saputra, D. P. (2019). Gaya Hidup Vapor di Kalangan Masyarakat Modern (Studi Tentang Masyarakat Modern di Kota Gresik). In Journal UNAIR.
Szukalska, M., Szyfter, K., Florek, E., Rodrigo, J. P., Rinaldo, A., Mäkitie, A. A., Strojan, P., Takes, R. P., Suárez, C., Saba, N. F., Braakhuis, B. J. M., & Ferlito, A. (2020). Electronic cigarettes and head and neck cancer risk—current state of art. Cancers, 12(11), 1–16. https://doi.org/10.3390/cancers12113274
Sumber gambar: Vape photo created by ArthurHidden - www.freepik.com